JAKARTA, SELASA - Dewi Fortuna tampaknya belum berpihak kepada Neni, wanita berusia hampir 60 tahun yang tinggal di RT 13 RW 03 Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Informasi tentang adanya pembagian BLT jilid 2 sudah didengarnya. Bukan dari televisi atau radio, tapi dari para tetangganya.
Saat ditemui Kompas.com, Sabtu (20/5), Neni mengaku resah. Tahun 2006 lalu, ia tak mendapatkan BLT. Padahal, ia telah direkomendasikan sebagai salah satu yang berhak mendapatkannya. “Saya ini kurang susah apa? Suami cuma Pak Ogah (orang yang membantu mengatur lalu lintas di pemutaran jalan). Anak masih sekolah, saya cuma buruh nyuci,” keluh Neni di rumahnya yang sempit.
Rumah Neni memang telah berlantai, tak beralaskan tanah, tapi hanya terdiri dari satu kamar. Memasuki rumah Neni, bak memasuki gang sempit tak lebih dari 1,5 meter. Memanjang kira-kita 10 meter, di bagian belakang sudah dapur dan kamar mandi yang kondisinya memprihatinkan.
Penghasilan Neni per bulan mentok-mentoknya Rp 600.000, upah mencuci di tiga tempat. Tahun 2006 lalu, ia masih bisa bersabar. Berpikiran positif bahwa ia belum ditakdirkan mendapat rejeki nomplok BLT. Tahun ini, saat kabar pembagian BLT menyeruak, angan Neni langsung melambung. Sebuah angan, yang tetap menjadi angan. Sebab, pemerintah masih akan menggunakan data lama untuk pembagian BLT tahun ini.
Artinya, Neni harus memupus segala harapannya. “Saya pengen benerin TV yang rusak, udah tiga bulan. Nggak punya duit, buat anak sekolah aja duitnya. Satu lagi, saya mau perpanjang sewa kuburan anak saya. Harusnya Februari kemarin, karena nggak punya duit saya khawatir kuburannya udah dipake orang lain,” kisah Neni.



