Harta Abadi

Allah SWT selalu menceritakan dalam Alquran mengenai kepastian hancurnya alam dunia. Dalam pembukaan surat Attakwir [81], Al Infithaar [82], dan Al Insyiqaaq [84], digambarkan secara detail bagaimana langit yang kokoh ini kelak akan menjadi rapuh dan terkelupas.

Bintang-bintang terlepas dari porosnya, lautan dipanaskan lalu diluapkan dan menelan semua daratan, matahari dipadamkan sehingga tak ada kehidupan lagi di muka bumi. Ini menunjukkan bahwa harta yang selama ini manusia perjuangkan akan berakhir. Alam akhirat telah Allah SWT persiapkan bukan untuk sementara, melainkan untuk selama-lamanya. Tidak ada kematian lagi setelah itu.

Siapa yang selama di dunia mempersiapkan diri untuk menjadi penghuni surga dengan menaati Allah SWT dan Rasul-Nya, ia akan bahagia selamanya. Sebaliknya, siapa yang mempersiapkan diri untuk menjadi bahan bakar neraka dengan mengingkari ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya, ia akan menderita selamanya.

Dalam Alquran, Allah SWT selalu menceritakan orang-orang yang kelak pasti akan menyesal karena selama di dunia, lalai. Mereka tidak pernah percaya bahwa kelak akan dihisab semua amal dan kekayaan mereka. Akibatnya, mereka terlena dengan kemewahan, bahkan menjadi kikir dan rakus.

Baca entri selengkapnya »

BLT Itu Mau Buat Perpanjangan Sewa Kuburan

Selasa, 20 Mei 2008 |

JAKARTA, SELASA - Dewi Fortuna tampaknya belum berpihak kepada Neni, wanita berusia hampir 60 tahun yang tinggal di RT 13 RW 03 Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Informasi tentang adanya pembagian BLT jilid 2 sudah didengarnya. Bukan dari televisi atau radio, tapi dari para tetangganya.

Saat ditemui Kompas.com, Sabtu (20/5), Neni mengaku resah. Tahun 2006 lalu, ia tak mendapatkan BLT. Padahal, ia telah direkomendasikan sebagai salah satu yang berhak mendapatkannya. “Saya ini kurang susah apa? Suami cuma Pak Ogah (orang yang membantu mengatur lalu lintas di pemutaran jalan). Anak masih sekolah, saya cuma buruh nyuci,” keluh Neni di rumahnya yang sempit.

Rumah Neni memang telah berlantai, tak beralaskan tanah, tapi hanya terdiri dari satu kamar. Memasuki rumah Neni, bak memasuki gang sempit tak lebih dari 1,5 meter. Memanjang kira-kita 10 meter, di bagian belakang sudah dapur dan kamar mandi yang kondisinya memprihatinkan.

Penghasilan Neni per bulan mentok-mentoknya Rp 600.000, upah mencuci di tiga tempat. Tahun 2006 lalu, ia masih bisa bersabar. Berpikiran positif bahwa ia belum ditakdirkan mendapat rejeki nomplok BLT. Tahun ini, saat kabar pembagian BLT menyeruak, angan Neni langsung melambung. Sebuah angan, yang tetap menjadi angan. Sebab, pemerintah masih akan menggunakan data lama untuk pembagian BLT tahun ini.

Artinya, Neni harus memupus segala harapannya. “Saya pengen benerin TV yang rusak, udah tiga bulan. Nggak punya duit, buat anak sekolah aja duitnya. Satu lagi, saya mau perpanjang sewa kuburan anak saya. Harusnya Februari kemarin, karena nggak punya duit saya khawatir kuburannya udah dipake orang lain,” kisah Neni.

Baca entri selengkapnya »