Ungkapan insya Allah bukan hal yang asing bagi umat Islam. Ucapan yang termasuk salah satu kalimat thayyibah atau kalimat baik untuk diamalkan ini, di satu sisi belum dipahami makna dan urgensinya secara benar.
Nabi Muhammad SAW pernah ditegur Allah SWT ketika terlupa mengucapkan insya Allah sewaktu berdialog dengan utusan suku Quraisy bernama An Nadhar bin Al Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. Mereka bertanya kepada Nabi tentang kisah Ashabul Kahfi, Zulkarnain, dan ruh. Beliau menjawab, ”Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan kepadamu.”
Sampai batas waktu yang dijanjikan, Allah SWT belum menurunkan wahyu menanggapi tiga pertanyaan itu sehingga Nabi tak dapat menjawab. Setelah 15 hari berlalu, Allah menurunkan ayat yang menjawab seluruh pertanyaan tersebut.
Teguran Allah SWT itu diabadikan dalam QS Alkahfi [18]: 23-24. ”Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi’, kecuali (dengan mengatakan), ‘insya Allah‘. Dan ingatlah kepada Tuhanmu bila engkau lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku, agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini’.”
Insya Allah yang memiliki arti ‘Jika Allah menghendaki’ seringkali disalahtempatkan dalam penggunaannya, hanya karena lantaran kita merasa sebagai orang yang berbudaya timur, yang tidak pantas untuk berkata tidak.


