Korban SMS Santet Disidik

JAKARTA, RABU – M Fani Bratawijaya (25), pegawai bank swasta yang tinggal di Jalan Petamburan V, RT 01 RW 08 Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanahabang, Jakarta Pusat, yang mengaku menjadi korban SMS santet, Minggu (11/5) pukul 10.05, harus berurusan dengan polisi. Kemarin, Fani diperiksa petugas Polsektro Tanahabang terkait pengakuannya itu.

“Selasa pukul 12.00 ada tiga polisi dari Polsek Tanahabang bertanya soal SMS santet dan saya jawab apa adanya,” kata Fani. Fani ditanya polisi seputar kronologi peristiwa yang menimpanya dan dampak yang ditimbulkan SMS tersebut. “Saya cerita ke polisi seperti apa yang saya rasakan. Dan besok saya sudah bisa masuk kerja. Sekarang kondisi badan saya lebih baik dibandingkan dua hari lalu yang sakit sekali seperti terbebani tiga karung beras,” katanya.

Teller Bank ABN Amro, Jalan Sudirman, itu mengaku telah sembuh. Fani mengatakan, hari Minggu pukul 10.05 ponselnya berbunyi menandakan SMS masuk. SMS itu berbunyi: Anda telah dihubungi infra red tegangan tinggi 0866. Tiba-tiba layar LCD ponselnya berwarna merah. Di layar LCD itu Fani melihat efek cahaya yang berputar-putar hingga dirinya termenung dan langsung jatuh terduduk. Tangannya kejang seketika, separuh badannya tidak bisa digerakkan, dan keluar keringat dingin. Fani tersugesti ingin melihat layar ponselnya yang menyala merah.

Kakak Fani, Dewi Melanisari (28), yang melihat hal itu mengambil paksa ponsel yang dipegang Fani. Khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Dewi mematahkan kartu ponsel Fani.

Motif Iseng

Sementara itu, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) sudah menginvestigasi pengirim SMS isu santet bersama kepolisian. Nomor pengirim SMS berasal dari Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau, dan kasusnya kini ditangani polisi.

Kepala Bagian Umum dan Humas Ditjen Postel Gatot S Dewabrata kepada Warta Kota, Selasa (13/5), mengatakan, Ditjen Postel juga sudah bekerja sama dengan operator seluler guna mengetahui nomor pengirim SMS. Hasil penelusuran sudah diserahkan ke polisi dan pihak kepolisian akan mengembangkan pengusutan kasus SMS tersebut. “Dari nomor pengirim SMS terlihat kode areanya. Namun, kami sempat terkendala status nomor pengirim SMS karena tidak cocok dengan identitas registrasi nomor prabayar. Tetapi hal itu dapat diatasi dan semua masih diselidiki polisi,” kata Gatot.

Dari hasil penelusuran, SMS santet dikirim dari nomor telepon seluler di wilayah Riau. Awalnya dikirim dari nomor 0812. Disebut-sebut juga nomor 0866 yang dianggap milik Natrindo Telekomunikasi Selular (NTS) Axis, padahal nomor mereka berawalan 083. Pengirim awal SMS santet itu kini sudah ditangkap polisi di Riau. Ternyata motifnya hanya iseng. “Kalau motif, informasi yang kita terima dari polisi pengirimnya mengaku hanya iseng,” ujar Gatot.

Dengan tertangkapnya pengirim SMS, kata Gatot, maka tidak benar ada SMS yang bisa menyantet orang. “Sudah terbukti sekarang, kemarin orang yang sakit setelah baca SMS bukan karena santet,” ujarnya. Menurut Gatot, pengirim awal SMS santet sengaja memanfaatkan keresahan masyarakat dengan medium telepon seluler. “Dia menggunakan data palsu, jadi kami agak terkendala. Tapi operator punya alat (untuk melacak). Itu satu orang saja (yang melakukan),” katanya.

Meski penyelidikan sudah diserahkan ke polisi, Ditjen Postel bersama operator ponsel terus mengawasi. Gatot mengatakan, pengiriman SMS juga bisa mendiskreditkan operator ponsel tertentu berdasarkan nomor yang digunakan.

Dalam Pasal 21 UU Telekomunikasi ditegaskan, penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan usaha penyelenggaraan telekomunikasi yang bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan, keamanan, atau ketertiban umum. Para operator ponsel juga meminta pelanggan mengabaikan teror santet melalui SMS. Operator ponsel mengungkapkan, SMS itu bukan ulah dari operator untuk menarik keuntungan. Bagi operator, masih banyak cara yang lebih sehat dan menarik untuk membuat pelanggan loyal dan meningkatkan jumlah pelanggan (Warta Kota, Senin 12/5).

Operator ponsel sempat dituding berada di balik munculnya isu SMS santet tersebut karena alasan meningkatkan traffic. “Ada operator yang mengeluh apes dengan adanya teror SMS itu. Apalagi, dia harus berkali-kali menjelaskan kepada publik dan mendapat keluhan,” kata Gatot. (Warta Kota/Ang, Get)

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.