Aneka Susu

ANEKA SUSU KHUSUS, UNTUK SIAPA YA?

Ada susu penambah berat badan, susu kedelai, susu rendah laktosa, dan susu penambah energi. Sebelum memakai, cari tahu dulu kelebihan dan manfaatnya karena susu khusus seperti ini hanya diberikan kepada anak dengan kondisi tertentu pula.

SUSU PENAMBAH BERAT BADAN

Produk ini banyak dilirik orang tua. Bukan apa-apa, di Indonesia masih ada anggapan bahwa anak yang berbadan gemuk lebih sehat. Padahal sehat sama sekali tidak identik dengan gemuk. Sebaliknya, anak gemuk belum tentu sehat. Malah kegemukan dikhawatirkan membuat si kecil rentan terkena berbagai penyakit, seperti jantung, diabetes dan sebagainya.

KOMPOSISI SUSU PENAMBAH BB

Susu Penambah BB (SPBB) memiliki komposisi/kandungan zat-zat yang berbeda dibanding susu formula biasa. Berikut beberapa kelebihan SPBB dibanding susu lain: *Jumlah kalori lebih tinggi dibandingkan produk susu lain. Sebagai informasi, susu /full cream /sebanyak 250 cc rata-rata mengandung 130 kalori. Nah, SPBB sebanyak 250 cc mengandung 250 kalori. *Komponen vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya lebih tinggi dan lebih lengkap dibanding produk susu lain. *Komponen lemaknya tersedia dalam bentuk MCT ( /Medium Chain Triglycerides /) sehingga mudah diserap tubuh. Selain itu, susunan asam amino dalam susu khusus ini dinilai lengkap dan ideal guna melakukan sintesa protein.

TIDAK UNTUK SEMUA ANAK

Meski aman, Titi mengimbau agar orang tua tidak sembarangan memberikan susu khusus ini kepada anak-anak. Alasannya, susu khusus ini memang diformulasikan khusus untuk anak-anak yang memiliki indikasi medis tertentu atau yang benar-benar memerlukannya. Jika tidak, anak yang semula memiliki BB normal bisa-bisa malah bermasalah karena mengalami kegemukan. Lalu siapa yang disarankan mengonsumsi SPBB? *- Anak yang dalam 2 bulan berturut-turut berat badannya tidak bertambah. *Namun sebelum memberikan susu khusus ini, orang tua tetap wajib mencari penyebab mengapa BB si kecil tak beranjak naik. Caranya, amati pola makan si kecil, apakah selama ini susah makan atau porsi makanannya memang sedikit. Kemungkinan lain, nafsu makan anak sebenarnya bagus, tapi karena kandungan gizi makannya tergolong rendah atau tak mencukupi kebutuhan tubuhnya, tak perlu heran kalau beratnya stabil. Mengingat penyebab tidak naiknya BB anak amat beragam, konsultasikan dengan dokter anak atau ahli gizi anak untuk mendapat diagnosa yang lebih pasti. *- Anak yang mengalami gangguan sistem pencernaan. *Contohnya anak yang mengalami malabsorbsi lemak atau protein, hingga makanan yang masuk ke tubuhnya jadi sulit diproses hingga menyebabkan BB anak tak bergerak naik. *- Anak yang sedang menjalani tahap pemulihan *. Setelah sakit, apalagi penyakit yang tergolong "serius" dan dalam kurun waktu yang cukup lama, berat badan anak pasti turun drastis. Dalam kondisi seperti inilah SPBB bisa membantu. *- Anak kurus (berat badannya tidak sesuai dengan grafik tumbuh kembang) *. Namun perlu diingat, beberapa anak memang kurus karena faktor keturunan. Meski faktor kecukupan gizi sudah terpenuhi mereka umumnya tetap kurus alias sulit untuk "digemukkan". Kuncinya, periksakan anak ke dokter anak yang mendalami soal gizi. Anak yang tampak kurus bisa saja menderita infeksi tertentu, umumnya karena TBC atau kecacingan. Anak dengan kondisi seperti ini boleh mengonsumsi susu khusus, tapi tentu saja penyakitnya juga harus ditangani secara serius.

4 HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

Bila anak memang dianjurkan dokter anak atau ahli gizi anak untuk mengonsumsi SPBB, jangan lupa perhatikan hal-hal berikut: ** *Hindari mengonsumsi SPBB mendekati jam makan karena rasa kenyang membuatnya enggan menyantap makanan. Minum susu menjelang tidur atau di luar jam makan lebih disarankan. ** *Karena kandungan kalorinya relatif lebih tinggi dibanding susu lainnya, cukup minum dua kali sehari. Jika konsumsinya terlampau sering, dikhawatirkan anak meninggalkan makanan yang menjadi menu pokoknya. ** *Semasa pemulihan dari sakit, anak boleh mengonsumsi SPBB sampai ia sembuh benar dan kembali ke berat badan normal. Setelah sembuh sebaiknya segera kembali mengonsumsi susu biasa. ** *Agar anak tak merasa bosan, susu khsusus ini boleh diselang-seling pemberiannya dengan susu lain. ** *Jangan lupa pantau berat badannya. Jika melewati batas atas grafik tumbuh-kembang, sebaiknya pemberian SPBB dihentikan. Bila tidak, dikhawatirkan akan muncul masalah baru berupa obesitas/kegemukan yang penanganannya juga tidak mudah. ** *Bagi anak yang masuk kategori kurus, boleh-boleh saja mencoba susu ini, tapi jangan lupa perbaiki pola makannya. Dengan mengonsumsi makanan cukup gizi sesuai kebutuhannya, diharapkan berat badannya dapat bertambah hingga tidak bergantung pada susu. ** *Yang terpenting, jangan hanya mengandalkan susu ini sebagai asupan makan si kecil. Jangan pernah lelah untuk mengupayakan agar anak makan secara rutin dan teratur sebanyak 3 kali sehari dengan berpedoman pada menu yang bergizi sesuai pola 4 sehat 5 sempurna.

*Hilman Hilmansyah (tabloid nakita)
*

*SUSU RENDAH LAKTOSA*

Laktosa berperan sebagai sumber energi atau kalori yang disebut juga sebagai gula susu. Laktosa berperan dalam pembentukan mikroflora usus yang diperlukan sebagai penghambat bakteri yang merugikan (patogen). Produk susu formula rendah laktosa umumnya diperuntukkan bagi mereka yang mengalami diare atau pemulihan sesudah sakit. Namun dalam beberapa kasus, ada juga anak yang kondisi pencernaannya memang tak tahan terhadap laktosa. "Gangguan" ini disebut /lactose intolerance /atau intoleransi laktosa atau dalam bahasa awamnya lambung yang bersangkutan tak dapat mencerna susu. Intoleransi laktosa ini terjadi karena tidak ada atau minimnya enzim laktase ( /b-Galaktosidase /) dalam sistem pencernaan si anak. Karena ketidakmampuannya mencerna susu, tinjanya menjadi berair, berbusa dan berbau asam. Bukan cuma itu. Anak pun mengeluh perutnya sakit, kembung dan terasa mulas. Itulah mengapa anak dengan kondisi seperti ini dianjurkan untuk mengonsumsi susu rendah laktosa ( /low lactose /) atau bebas laktosa ( /free lactose /). Tentu saja sebelum mengonsumsi susu jenis ini, ada baiknya orang tua berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi anak untuk memastikan apakah si kecil memang perlu mengonsumsi susu ini atau tidak.

*SUSU KEDELAI *

Ada dua macam susu kedelai, yang berbentuk cair dan bubuk. Susu kedelai dipasarkan dalam kondisi "murni", artinya tanpa tambahan gula. Meski begitu, tak menutup kemungkinan ditambahkan gula atau penambah cita rasa seperti cokelat, pandan, stroberi dan sebagainya bila memang diinginkan. Perlu diketahui, untuk meningkatkan selera anak bisa juga ditambahkan gula sekitar 7 persen saja dari berat susu tersebut. Jika kadar gula terlalu banyak dari yang dianjurkan akan menyebabkan anak cepat merasa kenyang. Susu kedelai sangat baik dikonsumsi, terutama bagi anak-anak yang alergi susu sapi atau mereka yang mengalami gangguan di saluran pencernaannya, semisal kekurangan atau tak memiliki enzim laktase hingga tak mampu mencerna laktosa. Dalam jangka panjang tak ada efek samping penggunaan susu kedelai ini, selama dikonsumsi dengan wajar. Komposisi susu kedelai hampir sama dengan susu sapi. Lantaran itu, tak berlebihan jika susu kedelai bisa dijadikan pengganti susu sapi. Setiap 100 g susu kedelai mengandung kalori 41 kkal, protein 3,5 g, lemak 2,5 g, karbohidrat 5 g, kalsium 50 mg, fosfor 45 g, vitamin A 200 SI, vitamin B1 (tiamin) 0,08 mg, dan sebagainya. Secara umum, susu kedelai juga mengandung Vitamin B 2 , B 2 niasin, piridoksin, dan golongan Vitamin B yang tinggi. Vitamin lain yang juga terkandung dalam jumlah cukup banyak adalah Vitamin E dan K. Jika dikonsumsi secara rutin susu kedelai dapat memberi tambahan nutrisi karena mengandung vitamin dan mineral esensial seperti kalsium dan zat besi. Disamping memberi tambahan energi untuk kegiatan belajar anak. Untuk balita, minum dua gelas susu kedelai dapat memenuhi 30 persen kebutuhan proteinnya per hari. Susu kedelai yang baik dan layak konsumsi tentulah harus bebas dari bau dan rasa /langu /kedelai, mempunyai kestabilan yang mantap, misalnya tak mengendap atau menggumpal.

*SUSU PENAMBAH ENERGI*

Beberapa produsen susu mengeluarkan produk susu "penambah energi". Kandungan kalori, protein, dan mineralnya memang lebih tinggi dibandingkan susu formula lainnya. Alhasil, energi yang masuk ke tubuh anak pun diyakini secara otomatis lebih tinggi. Selain itu, susu jenis ini memang lebih mudah diserap oleh pencernaan karena komposisi lemaknya berbentuk MCT ( /Medium Chain Triglycerides /). Bahkan, susunan asam amino yang terkadung di dalamnya pun tergolong lengkap untuk melakukan sintesa protein. Biasanya, susu ini dikategorikan sebagai menu tambahan atau pelengkap. Namun mengingat kandungan zat gizinya memang terbilang komplet, susu penambah energi ini boleh dikatakan sebagai pengganti makanan. Meski demikian bukan berarti anak hanya mengonsumsi susu ini dan tak perlu lagi menyantap makanan yang lain. Susu penambah energi sebaiknya diberikan pada anak yang nafsu makannya tergolong buruk atau rendah. Namun sekali lagi, alangkah baiknya jika orang tua lebih dulu berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi anak untuk mencari tahu apa penyebab buruknya nafsu makan si kecil. Apakah karena gangguan medis atau ada faktor psikologis, semisal bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja maupun suasana makan yang tidak menyenangkan.

MAKANAN CAIR

Makanan cair berbentuk bubuk memang mampu memenuhi kebutuhan kalori anak. Kandungan protein, vitamin dan mineralnya pun tergolong tinggi. Anak yang dianjurkan mengonsumsi makanan cair di antaranya karena berat badannya tak naik-naik, baru sembuh dari sakit, mengalami gangguan pencernaan, gangguan di sekitar mulut atau karena refleks menelannya kurang baik hingga sulit menelan. Khusus mengenai anak yang mengalami gangguan proses menelan, umumnya makanan yang sudah masuk ke mulutnya akan dikeluarkan/dimuntahkan lagi. Oleh karena itulah makanan cair dijadikan alternatif pengganti makanan. Meski begitu, orang tua tetap harus melatih anak untuk dapat menerima makanan padat. Toh, mengonsumsi makanan cair saja pasti tak akan mencukupi kebutuhan gizi si kecil. Sementara proses belajar makannya pun akan berlangsung lebih lama dibanding anak seusianya. Dampak yang lebih fatal, pola makan anak jadi kurang baik bahkan dapat menyebabkannya mengalami malnutrisi. Ingat, makanan cair ini bukanlah makanan pokok. Anak tetap harus mengonsumsi menu makanan yang variatif sekaligus memenuhi kebutuhan gizinya. Kalaupun anak mengonsumsi makanan cair karena mengalami gangguan pencernaan, sebaiknya konsultasikan kondisi ini pada dokter anak. Apakah memang perlu dilakukan tindakan medis agar gangguan pencernaan dapat diatasi. Upaya ini dilakukan supaya anak tidak "tergantung" pada makanan cair dan ogah mengonsumsi makanan lain.

PENTING UNTUK DIINGAT

* Perhatikan secara saksama, untuk usia berapa susu tersebut ditujukan.

* Cermati tanggal kedaluwarsanya.

* Perhatikan takaran sesuai anjuran. Jika melebihi takaran yang semestinya dikhawatirkan anak mengalami sembelit atau justru akan kelebihan berat badan. Sebaliknya, jika takarannya kurang besar kemungkinan anak mengalami kekurangan gizi.

sumber: nakita

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.